Kalau misalnya kalian ditanya, “Menurut kalian, siapa orang di dunia ini yang pantas menerima penghargaan sebagai orang yang terhebat?” Hayo… siapa jawaban kalian? Alexander Graham Bell, Albert Einsteins, Colombus, Julia Robert, atau…George W Bush? Siapalah jawabannya, yang pasti setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda.
Kalau aku yang dijawab, insya Allah aku jawab, “Para Ibu Rumah Tangga”. Lho, kok ibu ramah tangga,memang apa istimewanya dengan ibu rumah tangga? Kaya’nya biasa aja deh, kerjaannya tiap hari cuma nyapu, ngepel, masak, nyuci, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Dulu aku juga berpikiran begitu. Nggak ada yang istimewa dari seorang ibu rumah tangga. Tapi setelah kita telaah lebih dalam lagi, menjadi ibu rumah tangga penuh dengan tantangan, godaan, ujian dan hanya yang ikhlas dan saja yang bisa keluar dengan predikat ibu rumah tangga yang baik.
Coba deh kita bayangkin,
Setiap hari Sang Ibu bangun sebelum suami dan anak – anaknya bangun, Sang Ibu lantas mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari menyapu, mencuci piring, mencuci baju, lalu memasak dan menyiapkan keperluan suami yang akan berangkat ke kantor dan anak – anak yang akan berangkat sekolah. Setelah pekerjaannya selesai, satu per satu anggota keluarga mulai bangun. Mereka tidak mendapati rumah dalam keadaan yang berantakan, semua sudah rapi dan teratur.
Saat sarapan berlangsung, bisa jadi Sang Ibu mendapatkan giliran mengambil makanan paling akhir (paling tidak setelah suaminya mengambil / diambilkan makanan ), padahal Sang Ibulah yang bersusah payah. Namun tak pernah sekalipun Sang Ibu mengeluh saat mendapat porsi makan paling sedikit dan mungkin paling tidak komplit, karena lauk yang harusnya dibagi rata sudah diambil oleh Si Anak. Sang Ibu menerima hal itu dengan ikhlas.
Setelah sarapan, dengan sabar Sang Ibu membantu suami dan anak – anaknya mempersiapkan diri untuk mulai beraktivitas. Setelah semuanya siap, Sang Ibu melepas keberangkatan suaminya dengan senyuman yang paling manis di wajahnya. Tak jarang Sang Ibu tidak mempunyai waktu untuk istirahat apalagi merawat dirinya. Namun Sang Ibu tetap berusaha untuk tampil secantik mungkin di hadapan suaminya ( jadi sangat keterlaluan sekali kalau suaminya masih menyempatkan diri untuk melirik wanita lain ).
Belum sempat istirahat dari rutinitas (melakukan semua pekerjaan rumah) Sang Ibu sudah harus disibukkan dengan persiapan makan siang untuk suami yang kebetulan kantornya berdekatan dengan rumah, sehingga lebih suka makan dirumah. Susah payah menyiapkan makan siang, belum tentu Sang Ibu mendapat pujian.
Itu baru sebagian saja, masih ada lagi rutinitas yang benar-benar menguji kesabaran, yaitu mengasuh dan mendidik anak. Subhanallah… memang butuh kesabaran yang lebih untuk mengurusi anak, apalagi kalau anaknya bandel dan susah diatur.
Sebenarnya apa yang di cari oleh para Istri ini? Tak ada yang mereka cari, mereka hanya inginkan rihdo Allah dan melihat orang yang di kasihinya hidup bahagia. Jadi apa salahnya kita memberikan penghargaan kepada para ibu rumah tangga yang setiap hari bergelut dengan rutinitas mengurusi segala urusan rumah tangga ini. Kita tidak perlu membuatkan piala dari emas, karena mungkin ucapan manis dan pujian akan lebih berharga untuknya. Kita tidak perlu membuatkan monumen untuk mengenang pengorbanannya, karena mungkin menghormati dan menjadi partner yang baik lebih dia inginkan. Kita tidak perlu memberikan kejutan yang menggemparkan dunia saat ulang tahunnya dan setelah itu kembali lagi membiarkan dia berjuang seorang diri, karena mungkin dengan menjadi pendengar yang baik untuknya jauh lebih dia butuhkan.
Sebenarnya tulisan ini adalah ungkapan perasaanku yang aku harapkan akan dirasakan oleh seluruh anak di dunia ini kepada ibunya. Kalian (dan saya juga mungkin) tidak akan bisa membayangkan, alangkah bahagianya ibu kita, saat tahu bahwa kita merasa bangga pada ibu kita, kita merasa bersyukur memilikinya.
Saat kita sukses, tidak ada yang ibu harapkan dari kita, hanya seulas senyum saja bisa membuatnya bahagia. Subhanallah…
Sosok ibu selalu memberiku inspirasi dan motivasi untuk selalu menjadi sosok yang begitu tulus seperti ibuku.
Thanks for your love, Mam….
I’ll Always Love You Till Forever Come
Jumat, 20 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar