Kamis, 07 Mei 2009

Selama liburan

uPZ... sorry banget ya, aku lupa nyritain gimana pengalamanku waktu liburabn pulang kampung. Maklumlah kan banyak agenda yang aku lakukan so nggk sempat online. Tapi liburanku kali ini agak mengecewakan, gimana tidak. Bayanganku, waktu aku liburan, aku akan menikmati kembali suasana rumahku yang penuh keceriaan dan canda tawa dari keluargaku, tapi aku tidak menemukan hal itu, hanya sepi kurasa, dan kebetulan orang tuaku tidak menemani liburanku. Aku ingin sekali teman-temanku menemaniku, kubayangkan aku setiap hari disibukkan dengan aktivitasku berrekreasi bersama teman, tapi nyatanya mereka sudah mempunyai aktivitas sendiri, ada yang sibuk dengan kuliahnya, ada juga yang sibuk dengan kerjaannya. Kadang aku merasa menyesal pulang kampung, karena aku tidak menemukan kembali suasana yang sekian lama kurindukan.

Rumahku kini, hanyalah rumah yang tidak terawat yang setiap malamnya digunakan tidur oleh beberapa anggota keluargaku dan dikala siang, dibiarkan tidak terawat, sepi dan .... Sepi.

Sekolah, SD, SMP, SMA. Tempat yang selalu menyimpan memoriku di masa-masa belajarku. Setiap sudut terasa berarti dan penuh kenangan, namun ketika penghuninya membuat kita asing, lingkungan sekolahpun terasa tidak senyaman dulu.

Kampusku. sekarang hanyalah tempat dimana aku merasa asing, tanpa ada orang-orang yang mengenalku.

Sanggarku Kwarcabku tercinta. Ketika anggota DKC sudah berkali-kali mengalami pergantian, ketika setiap ruangannyapun suduh bukan hakku lagi, sudah bukan hak anggkatanku. Ketika anggotanya sudah tidak kita kenal lagi, tempat itu terasa asing, bahkan begitu asing. Tak terasalagi sanggar kwarcab yang dulunya menjadi rumahku yang kedua.

Aku baru tersadar, kalau hidup ini dinamis. Sekarang kita merasakan manis, tapi belum tentu besok kita akan merasakan manis juga. Kadang hanya dalam hitungan detik, hidup kita sudah mulai berubah. Inilah hidup. Terlalu naif kalau kita berpikiran kalau hidup akan terus begini.

Buat teman-temanku semua,,, aku merindukan saat2 kita bersma... Semoga kita bisa bersama lagi.

My Family, Klaten, Teman-Teman, DA-SK, DKC,,,, aku pulang untuk kalian semua...

Kamis, 23 April 2009

Lamaaaaaaa Buangeet ga ketemu

Hay....
wah lama banget ya kita nggak bagi-bagi cerita.
Akhir-akhir ini aku sibuk banget, biasalah... kan mau cuti, jadi kerjaan kantor harus beres dulu. Baru deh.. bisa menikmati masa-masa indah selama cuti di kampung halaman. Jadi nggak sabar nih, nunggu tanggal 28 April....


KLATEN..... aku pulang....
SAMBUT AKU........


Semoga ini manjadi masa-masa indahku.....

Aku sudah merencanakan ingin ini ingin itu. Mau keliling Jogja, Jalan-jalan ke Klaten, Puter-puter Solo, Makan Nasi Goreng BRI (Klaten), Kemah sama teman-teman Pramuka, naik bus Jogja - Solo. Dan masih banyak lagi hal yang mau aku lakuin. Oya, termasuk nonton bioskop :-) Habisnya disini nggak ada bioskop sih

Tunggu aku ya teman-teman....!!!

Sabtu, 28 Maret 2009

Rencana mudik

Aku lagi sibuk mikirin rencana buat mudik ke kampung halaman tercinta. Rasanya sudah nggak tahan untuk segera pulang, ya maklumlah, kan udah 1 tahun blm pulang.

Kalau sekarang sih, aku lagi menyusun anggaran biar lebih teratur arus uangku.

Kalau sekarang sih, aku belum bisa cerita banyak. Tapi kalau aku dah mudin, insya Allah tar aku critain masa-masa indah menginjak kembali tanah kelahiran, saat-saat asyik berpetualang dan saat-saat heboh bersama keluarga n teman.

Aku berharap bulan akan cepat berganti dan akan ku lepaskan sejenak segala penatku.

I wanna free...

Jumat, 27 Maret 2009

Khiminaichi

My best friend when I was a student in Junior High School. Khiminachi, bukan nama sebenarnya. Itu hanya nama lucu-lucuan buat kami. Nama sebenaranya adalah Intan, Intan Ambar Wati. Seperti Intan, aku juga punya nama lucu-lucuan, yaitu Oritshu.. Walau kami nggak tau apa artinya, tapi kami enjoy aja.

Khiminaichi.. Seorang sahabat laksana Intan, indah dan begitu berarti. Dia mengajarkanku banyak hal. Dia mengajarkan optimisme di tengah-tengah kesusahan, selalu mencoba bersikap positif dan penuh syukur. Khiminaichi.. Mengajarkanku disiplin dan tekun. Aku selalu termotivasi dengan kehadirannya di kelas yang hampir tidak pernah telat. Ketekunannya menuntut ilmu, kefokusannya pada pelajaran membuatku malu untuk tidur di kelas.
Saat aku dekat dengannya, hatiku merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan bukan karena harta ataupun popularitas karena bisa dibilang kami tidak punya dua hal itu, tapi kami punya kesetiakawanan dalam hal positif. Melangkah bersamanya membuatku merasa dekat dengan Allah untuk yang pertama kalinya.

Thanks, Tan. Dah ngajari aku untuk cinta sholat, mengaji, menghormati guru dan cinta pada ilmu. Thanks ya,, semoga next time kita bisa bertemu lagi dan saling berbagi. Aku akan menanti saat-saat itu.
Kamu adalah sahabatanku di jalan Allah, dan semoga akan selalu begitu.

Kamis, 26 Maret 2009

Makin Menjiwai

Hay guys... Aku mau crita lagi nih. Kali ini aku mau critain tentang profesi yang udah kurang lebih empat bulan aku tekuni. Awalnya aku ragu juga menerima tawaran temanku untuk menjadi penyiar di salah satu radio swasta di Tanah Bumbu. Aku merasa nggak punya bakat sama sekali di bidang 'percuap-cuapan' alias penyiaran.
Aku sadar kalau aku sangat nggak bisa bicara di hadapan public (walaupun jadi penyiar, nggak ketemu langsung sama pendengarnya tapi tetap aja suaranya didengar banyak orang). Waktu SMA, aku juga sudah memperlihatkan kegagapanku bicara di depan public, makanya kalau ada event apa gitu.. aku selalu memilih job di balik layar. Ya buat menghindari tampil di depan public. Ok, back to the topic. Empat bulan pertama, siaranku kalang kabut, pokoknya nggak tahu kemana deh arahnya. Nggak cuma itu, sering banget pas siaran aku tergagap-gagap karena kurang menguasai materi, baik dari penyajian dan juga kosakatanya. Walau aku sering berlatih dengan ngomong sendiri, tapi itu nggak terlalu membantuku.

Aku mulai bingung, gimana ya caranya aku bisa menguasai profesiku ini. Memang sih, penyiar adalah profesi sampinganku tapi aku mau all out, dan hasilnya optimal. Karena nggak juga menemukan solusinya, lama-kelamaan pekerjaanku ini jadi membebaniku. Dan efeknya sangat nggak menguntungkanku. Aku jadi males siaran dan kalau cuap-cuap makin kacau dan lebih sering garingny, segaring keripik kali ya.

Sampai akhiran aku ingat kata-kata guru matematikaku, semuanya hampir sama kata-katanya, mulai dari Bu Par, Bu Tri, Bu Tatik, Pak Agus & Bu Anis. Kira-kira begini kata beliau "Untuk bisa matematika, kuncinya adalah kita harus suka dulu sama matematika. Kalau kita udah nggak suka sama pelajarannya, pasti nggak bisa soalnya mau mencoba pasti malas." Aku ingat-ingat kalimat tersebut. Dan mulai mencoba untuk cuap-cuap sepenuh hatiku. Tanpa ada rasa terpaksa dan terbebani. Aku mencoba suka saat-saat siaran, menikmati setiap kata yang aku ucapkan dan mencoba memperbaiki kesalahan.

Dan memang setiap sesuatu itu perlu proses. Termasuk kualitas siaranku. Walau pelan tapi pasti, asal aku tetap berusaha dengan sabar dan tekun. Kini aku merasa lebih baik dan lebih enjoy.

Dan semoga makin enjoy lagi..

Selasa, 24 Maret 2009

Terkenal karena...

Mati lampu lagi.. Mati lampu lagi... Tanah Bumbu... Tanah Bumbu...

Jadi ingat pelajaran IPU nih (Ilmu Pengetahuan Umum) tentang ciri khas tempat tertentu. Contohnya : Belanda terkenal dengan kincir anginnya. Jogja terkenal dengan batiknya. Betawi terkenal dengan roti buayanya. Jepara terkenal dengan ukirannya. Marthapura terkenal dengan intannya. Dan masih banyak lagi kota dengan ciri khasnya.
Nah... Kalau kabupaten Tanah Bumbu terkenal dengan apanya ya..? Mungkin sekarang belum terkenal, tapi kalau lima tahun ke depan kondisinya masih seperti ini, siap-siap aja menyandang predikat "Terkenal dengan 'sering mati lampu'nya"

Bernaung di Tanah Bumbu
Tiada hari tanpa mati lampu..

Ibuku sayang,

Sudah hampir satu tahun aku meninggalkan kampung halamanku dan belum sempat untuk mudik walau hanya sekedar nengok keluarga. Sepuluh bulan setelah kepergianku ke Kalimantan, tepatnya dua bulan yang lalu, ibuku menyusulku ke Kalimantan. Tapi mungkin bukan itu semata-mata alasan ibuku meninggalkan tanah kelahiran kami. Karena suatu masalahlah yang membuat ibuku sudah merasa tidak nyaman lagi di rumahnya, di kampungnya sendiri. Kami, anak-anakny maklum akan apa yang ibu alami, memang sungguh cobaan yang bertubi-tubi. Dan cobaan itu hampir membuat ibuku sebagai sosok paling tangguh di dunia, sampai akhirnya beliau memutuskan menyerah dan lari dari kenyataan. Dengan harapan akan bisa hidup tenang di Kalsel, ibuku bersikukuh tidak mau pulang ke Jawa.
Aku senang banget melihat kedatangan ibuku. Setiap hari aku bisa makan masakan ibuku yang paling lezat, mencium tangan ibuku ketika mau berangkat ke kantor, tidur di pangkuanny saat ku lelah dan kembali seperti anak kecil yang selalu dimanja ibunya.
Tapi aku juga sedih. Sedih bukan karena aku tidak mau merawat orang tuaku, atau karena aku tidak mau dibebani. Sungguh bukan itu yang membuatku sedih. Keadaan ibukulah yang sering membuatku sedih. Saat aku pura-pura tertidur, kulihat ibuku sedang menerawang atap rumah kontrakan yang aku diami, pandanganny kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan. Tak jarang kupergoki beliau sedang melamun saat nonto TV, lagi-lagi aku tidak tahu apa yang beliau lamunkan. Saat makan bersama, jarang sekali ibuku nampak menikmati makananya, makannya selalu sedikit (seolah beliau tak ingin membebani kami dengan nasi yang dia suap) Ingin rasanya kuangkat seluruh beban pikiran beliau, agar tak ada lagi gurat kesedihan di wajahnya.
Setiap aku pandangi wajah ibuku tercinta yang mulai keriput, selalu ku temukan setumpuk derita yang selalu disimpan rapi dari anak-anaknya. Aku tak tahu apapun dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin melihat beliau bahagia, namun begitu sulit beliau melupakan masalah-masalahnya.
Selama ini aku mengenal ibuku sebagai sosok yang tegar. Tak pernah menangis walau menderita. Namun sikap inilah yang membuatku takut. Beliau tidak menangis, tidak mengeluh dan tidak bicara apapun, padahal hatinya luka, menderita. Aku takut pada ibuku yang terus dan terus saja memendam lukanya. Sekeras apapun batu karang, kalau dihantam ombak terus menerus lama kelamaan terkikis juga. Dan itulah yang aku takutkan akan dialami ibuku. Setegar-tegarnya ibuku memendam kesedihan, lambat laun hatinya tidak akan muat menanggungnya.
Ya Allah, jagalah ibuku...
Sayangi beliau seperti beliau menyayangiku
Bahagiakan beliau melebihi caranya membahagiakan anak-anakny...
Semoga ibuku tetap tegar dalam mengarungi pahitnya kehidupan...
Aku sayang ibu dan semoga Allah menjagamu, Bu...