Hari Selasa malam, seperti malam-malam biasanya aku siaran dari jam 19.00-21.00 WITA. Pukul 19.00, aku membawakan program acara campursari (awalnya sangat tidak kuduga ternyata campursari laris manis di Kalimantan). Dulunya sih aku nggak suka sama campursari yang merupakan lagu daerah asalku, tapi karena tuntutan profesi, jadi mau tidak mau aku harus suka sama campursari. Ternyata benar kata orang jawa "witing tresno jalaran soko kulino (cinta itu ada karena terbiasa, kira-kira begitulah artinya)" dan aku mulai suka pada campursari. Tak jarang saat lagu di putar, tanpa sadar aku ikut nyanyi. Hatiku mulai terbuka untuk mencintai kesenian daerahku.
Yupz... Itu tadi kisah cintaku sama campur sari. Tapi yang sebenarnya pengen aku curhatin bukan itu, tapi siaran aku yang kacau balau...
Walau aku orang Jawa tulen tapi aku akui sebenarnya pengetahuanku tentang Jawa masih sangat minim, baik itu tentang adatnya, kebudayaanny, dan segala sesuatunya tentang Jawa.
Aku baru nyadar waktu siaran, aku kelabakan cari kosa kata. Aneh banget kan? Orang Jawa kok bingung ngomong Jawa. Kalau kita disuruh ngomong Inggris atau Spanyol kelabakan, itu baru wajar. Pernah suatu hari Ibuku menegurku karena bahasa Jawaku (kromo/bahasa alus) awut-awutan dan monoton, seperti hafalan aja dari hari ke hari itu saja yang diucapkan. Aku jadi malu nih sama turis-turis yang memang sengaja datang jauh-jauh ke Indonesia, hanya untuk belajar bahasa Jawa, gamelan, tari, dan kesenian yang lain. Sepertinya aku harus mengulang kembali pelajaran yang aku dapat waktu duduk di bangku SD dan SMP, biar nggak terlalu malu-malu banget kalau ikut kuis budaya Jawa melawan turis :-\
Dan bagi pembaca yang kurang begitu suka sama kebudayaannya sendiri, coba deh mulai sekarang belajar mencintainya. Kalau tidak kita harus siap-siap kecurian lagi. Kan sayang banget kalau aset kita yamg berharga malah dikuasai oleh orang asing. Oke..? Harus OK donx..!
Senin, 23 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar