Sabtu, 28 Maret 2009

Rencana mudik

Aku lagi sibuk mikirin rencana buat mudik ke kampung halaman tercinta. Rasanya sudah nggak tahan untuk segera pulang, ya maklumlah, kan udah 1 tahun blm pulang.

Kalau sekarang sih, aku lagi menyusun anggaran biar lebih teratur arus uangku.

Kalau sekarang sih, aku belum bisa cerita banyak. Tapi kalau aku dah mudin, insya Allah tar aku critain masa-masa indah menginjak kembali tanah kelahiran, saat-saat asyik berpetualang dan saat-saat heboh bersama keluarga n teman.

Aku berharap bulan akan cepat berganti dan akan ku lepaskan sejenak segala penatku.

I wanna free...

Jumat, 27 Maret 2009

Khiminaichi

My best friend when I was a student in Junior High School. Khiminachi, bukan nama sebenarnya. Itu hanya nama lucu-lucuan buat kami. Nama sebenaranya adalah Intan, Intan Ambar Wati. Seperti Intan, aku juga punya nama lucu-lucuan, yaitu Oritshu.. Walau kami nggak tau apa artinya, tapi kami enjoy aja.

Khiminaichi.. Seorang sahabat laksana Intan, indah dan begitu berarti. Dia mengajarkanku banyak hal. Dia mengajarkan optimisme di tengah-tengah kesusahan, selalu mencoba bersikap positif dan penuh syukur. Khiminaichi.. Mengajarkanku disiplin dan tekun. Aku selalu termotivasi dengan kehadirannya di kelas yang hampir tidak pernah telat. Ketekunannya menuntut ilmu, kefokusannya pada pelajaran membuatku malu untuk tidur di kelas.
Saat aku dekat dengannya, hatiku merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan bukan karena harta ataupun popularitas karena bisa dibilang kami tidak punya dua hal itu, tapi kami punya kesetiakawanan dalam hal positif. Melangkah bersamanya membuatku merasa dekat dengan Allah untuk yang pertama kalinya.

Thanks, Tan. Dah ngajari aku untuk cinta sholat, mengaji, menghormati guru dan cinta pada ilmu. Thanks ya,, semoga next time kita bisa bertemu lagi dan saling berbagi. Aku akan menanti saat-saat itu.
Kamu adalah sahabatanku di jalan Allah, dan semoga akan selalu begitu.

Kamis, 26 Maret 2009

Makin Menjiwai

Hay guys... Aku mau crita lagi nih. Kali ini aku mau critain tentang profesi yang udah kurang lebih empat bulan aku tekuni. Awalnya aku ragu juga menerima tawaran temanku untuk menjadi penyiar di salah satu radio swasta di Tanah Bumbu. Aku merasa nggak punya bakat sama sekali di bidang 'percuap-cuapan' alias penyiaran.
Aku sadar kalau aku sangat nggak bisa bicara di hadapan public (walaupun jadi penyiar, nggak ketemu langsung sama pendengarnya tapi tetap aja suaranya didengar banyak orang). Waktu SMA, aku juga sudah memperlihatkan kegagapanku bicara di depan public, makanya kalau ada event apa gitu.. aku selalu memilih job di balik layar. Ya buat menghindari tampil di depan public. Ok, back to the topic. Empat bulan pertama, siaranku kalang kabut, pokoknya nggak tahu kemana deh arahnya. Nggak cuma itu, sering banget pas siaran aku tergagap-gagap karena kurang menguasai materi, baik dari penyajian dan juga kosakatanya. Walau aku sering berlatih dengan ngomong sendiri, tapi itu nggak terlalu membantuku.

Aku mulai bingung, gimana ya caranya aku bisa menguasai profesiku ini. Memang sih, penyiar adalah profesi sampinganku tapi aku mau all out, dan hasilnya optimal. Karena nggak juga menemukan solusinya, lama-kelamaan pekerjaanku ini jadi membebaniku. Dan efeknya sangat nggak menguntungkanku. Aku jadi males siaran dan kalau cuap-cuap makin kacau dan lebih sering garingny, segaring keripik kali ya.

Sampai akhiran aku ingat kata-kata guru matematikaku, semuanya hampir sama kata-katanya, mulai dari Bu Par, Bu Tri, Bu Tatik, Pak Agus & Bu Anis. Kira-kira begini kata beliau "Untuk bisa matematika, kuncinya adalah kita harus suka dulu sama matematika. Kalau kita udah nggak suka sama pelajarannya, pasti nggak bisa soalnya mau mencoba pasti malas." Aku ingat-ingat kalimat tersebut. Dan mulai mencoba untuk cuap-cuap sepenuh hatiku. Tanpa ada rasa terpaksa dan terbebani. Aku mencoba suka saat-saat siaran, menikmati setiap kata yang aku ucapkan dan mencoba memperbaiki kesalahan.

Dan memang setiap sesuatu itu perlu proses. Termasuk kualitas siaranku. Walau pelan tapi pasti, asal aku tetap berusaha dengan sabar dan tekun. Kini aku merasa lebih baik dan lebih enjoy.

Dan semoga makin enjoy lagi..

Selasa, 24 Maret 2009

Terkenal karena...

Mati lampu lagi.. Mati lampu lagi... Tanah Bumbu... Tanah Bumbu...

Jadi ingat pelajaran IPU nih (Ilmu Pengetahuan Umum) tentang ciri khas tempat tertentu. Contohnya : Belanda terkenal dengan kincir anginnya. Jogja terkenal dengan batiknya. Betawi terkenal dengan roti buayanya. Jepara terkenal dengan ukirannya. Marthapura terkenal dengan intannya. Dan masih banyak lagi kota dengan ciri khasnya.
Nah... Kalau kabupaten Tanah Bumbu terkenal dengan apanya ya..? Mungkin sekarang belum terkenal, tapi kalau lima tahun ke depan kondisinya masih seperti ini, siap-siap aja menyandang predikat "Terkenal dengan 'sering mati lampu'nya"

Bernaung di Tanah Bumbu
Tiada hari tanpa mati lampu..

Ibuku sayang,

Sudah hampir satu tahun aku meninggalkan kampung halamanku dan belum sempat untuk mudik walau hanya sekedar nengok keluarga. Sepuluh bulan setelah kepergianku ke Kalimantan, tepatnya dua bulan yang lalu, ibuku menyusulku ke Kalimantan. Tapi mungkin bukan itu semata-mata alasan ibuku meninggalkan tanah kelahiran kami. Karena suatu masalahlah yang membuat ibuku sudah merasa tidak nyaman lagi di rumahnya, di kampungnya sendiri. Kami, anak-anakny maklum akan apa yang ibu alami, memang sungguh cobaan yang bertubi-tubi. Dan cobaan itu hampir membuat ibuku sebagai sosok paling tangguh di dunia, sampai akhirnya beliau memutuskan menyerah dan lari dari kenyataan. Dengan harapan akan bisa hidup tenang di Kalsel, ibuku bersikukuh tidak mau pulang ke Jawa.
Aku senang banget melihat kedatangan ibuku. Setiap hari aku bisa makan masakan ibuku yang paling lezat, mencium tangan ibuku ketika mau berangkat ke kantor, tidur di pangkuanny saat ku lelah dan kembali seperti anak kecil yang selalu dimanja ibunya.
Tapi aku juga sedih. Sedih bukan karena aku tidak mau merawat orang tuaku, atau karena aku tidak mau dibebani. Sungguh bukan itu yang membuatku sedih. Keadaan ibukulah yang sering membuatku sedih. Saat aku pura-pura tertidur, kulihat ibuku sedang menerawang atap rumah kontrakan yang aku diami, pandanganny kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan. Tak jarang kupergoki beliau sedang melamun saat nonto TV, lagi-lagi aku tidak tahu apa yang beliau lamunkan. Saat makan bersama, jarang sekali ibuku nampak menikmati makananya, makannya selalu sedikit (seolah beliau tak ingin membebani kami dengan nasi yang dia suap) Ingin rasanya kuangkat seluruh beban pikiran beliau, agar tak ada lagi gurat kesedihan di wajahnya.
Setiap aku pandangi wajah ibuku tercinta yang mulai keriput, selalu ku temukan setumpuk derita yang selalu disimpan rapi dari anak-anaknya. Aku tak tahu apapun dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin melihat beliau bahagia, namun begitu sulit beliau melupakan masalah-masalahnya.
Selama ini aku mengenal ibuku sebagai sosok yang tegar. Tak pernah menangis walau menderita. Namun sikap inilah yang membuatku takut. Beliau tidak menangis, tidak mengeluh dan tidak bicara apapun, padahal hatinya luka, menderita. Aku takut pada ibuku yang terus dan terus saja memendam lukanya. Sekeras apapun batu karang, kalau dihantam ombak terus menerus lama kelamaan terkikis juga. Dan itulah yang aku takutkan akan dialami ibuku. Setegar-tegarnya ibuku memendam kesedihan, lambat laun hatinya tidak akan muat menanggungnya.
Ya Allah, jagalah ibuku...
Sayangi beliau seperti beliau menyayangiku
Bahagiakan beliau melebihi caranya membahagiakan anak-anakny...
Semoga ibuku tetap tegar dalam mengarungi pahitnya kehidupan...
Aku sayang ibu dan semoga Allah menjagamu, Bu...

Senin, 23 Maret 2009

Malu sama turis

Hari Selasa malam, seperti malam-malam biasanya aku siaran dari jam 19.00-21.00 WITA. Pukul 19.00, aku membawakan program acara campursari (awalnya sangat tidak kuduga ternyata campursari laris manis di Kalimantan). Dulunya sih aku nggak suka sama campursari yang merupakan lagu daerah asalku, tapi karena tuntutan profesi, jadi mau tidak mau aku harus suka sama campursari. Ternyata benar kata orang jawa "witing tresno jalaran soko kulino (cinta itu ada karena terbiasa, kira-kira begitulah artinya)" dan aku mulai suka pada campursari. Tak jarang saat lagu di putar, tanpa sadar aku ikut nyanyi. Hatiku mulai terbuka untuk mencintai kesenian daerahku.
Yupz... Itu tadi kisah cintaku sama campur sari. Tapi yang sebenarnya pengen aku curhatin bukan itu, tapi siaran aku yang kacau balau...
Walau aku orang Jawa tulen tapi aku akui sebenarnya pengetahuanku tentang Jawa masih sangat minim, baik itu tentang adatnya, kebudayaanny, dan segala sesuatunya tentang Jawa.
Aku baru nyadar waktu siaran, aku kelabakan cari kosa kata. Aneh banget kan? Orang Jawa kok bingung ngomong Jawa. Kalau kita disuruh ngomong Inggris atau Spanyol kelabakan, itu baru wajar. Pernah suatu hari Ibuku menegurku karena bahasa Jawaku (kromo/bahasa alus) awut-awutan dan monoton, seperti hafalan aja dari hari ke hari itu saja yang diucapkan. Aku jadi malu nih sama turis-turis yang memang sengaja datang jauh-jauh ke Indonesia, hanya untuk belajar bahasa Jawa, gamelan, tari, dan kesenian yang lain. Sepertinya aku harus mengulang kembali pelajaran yang aku dapat waktu duduk di bangku SD dan SMP, biar nggak terlalu malu-malu banget kalau ikut kuis budaya Jawa melawan turis :-\
Dan bagi pembaca yang kurang begitu suka sama kebudayaannya sendiri, coba deh mulai sekarang belajar mencintainya. Kalau tidak kita harus siap-siap kecurian lagi. Kan sayang banget kalau aset kita yamg berharga malah dikuasai oleh orang asing. Oke..? Harus OK donx..!

Sebuah renungan singkat

Laut perbatasan Batulicin-Kotabaru,Maret 2009

Di sela aktivitasku yang super padat, maklumlah selain bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan analisa batubara di Kalsel aku juga bekerja paruh waktu sebagai penyiar radio swasta di Tanah Bumbu, kusempatkan untuk berlibur sejenak barang satu hari ke tempat Bulekku yang ada di Kota Baru ( Sekitar satu jam menempuh perjalanan laut dengan menggunakan speed boat)
Di perjalanan ku lihat laut yang membentang luas, luasnya lebih luas dari pikiranku yang sedang didera kemelut akibat penatnya bekerja. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya ku mengagungkan kebesarannya, mengagumi ciptaannya. Bayangkan laut yang begitu luas, dibentengi dengan kepulauan yang hijau, dihiasi gunung yang bergelombang dan ditutupi langit yang berawan putih nan indah. Subhanyallah….. Sungguh indah ciptaannya, dan hanya Dia yang bias melakukan semua ini, menciptakan semesta yang begitu mempesona.
Dan betapa kumerindukan saat-saat seperti ini, nikmatnya waktu bersantai dan hanya Asma Allah yang menyelimuti hatiku. Sungguh terlalunya aku menjadi hamba-Nya. Allah begitu menyayangiku dengan segala bentuk pemberiannya, udara, air, tanah, awan, cinta, kebahagiaan, cobaan, ujian, dan kehidupan. Namun ku tak sadar kalau ternyata ku terlalu sering melalaikannya. Betapaku baru tersadar kalau ternyata duniaku lebih berat daripada akhiratku. Hampir sebagian besar waktu kubuang untuk duniaku. Sedang untuk Allah hanya tersisa waktu 5 X 10 menit, itupun tidak selalu kuhabiskan waktu yang singkat itu untuk khusuk kepada-Nya.
Astagfirullah…. Pantaskah kaki ini menginjak surga-Nya? Pantaskah ku menyebut diriku insan-Nya yang bertaqwa? Terlalu banyak yang Allah berikan pada kita tanpa kita memintanya. Terlalu banyak dosa yang kita lakukan daripada meminta ampun. Lebih banyak kesempatan yang Allah berikan kepada kita daripada kuantitas ibadah kita kepada-Nya. Tapi entah mengapa hati ini jarang bersyukur kepada-Nya, sadar atau tidak mungkin ini sering terjadi pada diri kita.
Ya Allah…. Tuntunlah langkah Kami agar senantiasa dekat dengan-Mu.
Tuntunlah hati kami untuk cinta hanya kepada-Mu
Semoga dunia ini tidak menjauhkan kami dari-Mu ya Allah…

Jumat, 20 Maret 2009

Sebuah Penghargaan

Kalau misalnya kalian ditanya, “Menurut kalian, siapa orang di dunia ini yang pantas menerima penghargaan sebagai orang yang terhebat?” Hayo… siapa jawaban kalian? Alexander Graham Bell, Albert Einsteins, Colombus, Julia Robert, atau…George W Bush? Siapalah jawabannya, yang pasti setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda.
Kalau aku yang dijawab, insya Allah aku jawab, “Para Ibu Rumah Tangga”. Lho, kok ibu ramah tangga,memang apa istimewanya dengan ibu rumah tangga? Kaya’nya biasa aja deh, kerjaannya tiap hari cuma nyapu, ngepel, masak, nyuci, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Dulu aku juga berpikiran begitu. Nggak ada yang istimewa dari seorang ibu rumah tangga. Tapi setelah kita telaah lebih dalam lagi, menjadi ibu rumah tangga penuh dengan tantangan, godaan, ujian dan hanya yang ikhlas dan saja yang bisa keluar dengan predikat ibu rumah tangga yang baik.
Coba deh kita bayangkin,

Setiap hari Sang Ibu bangun sebelum suami dan anak – anaknya bangun, Sang Ibu lantas mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari menyapu, mencuci piring, mencuci baju, lalu memasak dan menyiapkan keperluan suami yang akan berangkat ke kantor dan anak – anak yang akan berangkat sekolah. Setelah pekerjaannya selesai, satu per satu anggota keluarga mulai bangun. Mereka tidak mendapati rumah dalam keadaan yang berantakan, semua sudah rapi dan teratur.

Saat sarapan berlangsung, bisa jadi Sang Ibu mendapatkan giliran mengambil makanan paling akhir (paling tidak setelah suaminya mengambil / diambilkan makanan ), padahal Sang Ibulah yang bersusah payah. Namun tak pernah sekalipun Sang Ibu mengeluh saat mendapat porsi makan paling sedikit dan mungkin paling tidak komplit, karena lauk yang harusnya dibagi rata sudah diambil oleh Si Anak. Sang Ibu menerima hal itu dengan ikhlas.

Setelah sarapan, dengan sabar Sang Ibu membantu suami dan anak – anaknya mempersiapkan diri untuk mulai beraktivitas. Setelah semuanya siap, Sang Ibu melepas keberangkatan suaminya dengan senyuman yang paling manis di wajahnya. Tak jarang Sang Ibu tidak mempunyai waktu untuk istirahat apalagi merawat dirinya. Namun Sang Ibu tetap berusaha untuk tampil secantik mungkin di hadapan suaminya ( jadi sangat keterlaluan sekali kalau suaminya masih menyempatkan diri untuk melirik wanita lain ).
Belum sempat istirahat dari rutinitas (melakukan semua pekerjaan rumah) Sang Ibu sudah harus disibukkan dengan persiapan makan siang untuk suami yang kebetulan kantornya berdekatan dengan rumah, sehingga lebih suka makan dirumah. Susah payah menyiapkan makan siang, belum tentu Sang Ibu mendapat pujian.
Itu baru sebagian saja, masih ada lagi rutinitas yang benar-benar menguji kesabaran, yaitu mengasuh dan mendidik anak. Subhanallah… memang butuh kesabaran yang lebih untuk mengurusi anak, apalagi kalau anaknya bandel dan susah diatur.

Sebenarnya apa yang di cari oleh para Istri ini? Tak ada yang mereka cari, mereka hanya inginkan rihdo Allah dan melihat orang yang di kasihinya hidup bahagia. Jadi apa salahnya kita memberikan penghargaan kepada para ibu rumah tangga yang setiap hari bergelut dengan rutinitas mengurusi segala urusan rumah tangga ini. Kita tidak perlu membuatkan piala dari emas, karena mungkin ucapan manis dan pujian akan lebih berharga untuknya. Kita tidak perlu membuatkan monumen untuk mengenang pengorbanannya, karena mungkin menghormati dan menjadi partner yang baik lebih dia inginkan. Kita tidak perlu memberikan kejutan yang menggemparkan dunia saat ulang tahunnya dan setelah itu kembali lagi membiarkan dia berjuang seorang diri, karena mungkin dengan menjadi pendengar yang baik untuknya jauh lebih dia butuhkan.

Sebenarnya tulisan ini adalah ungkapan perasaanku yang aku harapkan akan dirasakan oleh seluruh anak di dunia ini kepada ibunya. Kalian (dan saya juga mungkin) tidak akan bisa membayangkan, alangkah bahagianya ibu kita, saat tahu bahwa kita merasa bangga pada ibu kita, kita merasa bersyukur memilikinya.
Saat kita sukses, tidak ada yang ibu harapkan dari kita, hanya seulas senyum saja bisa membuatnya bahagia. Subhanallah…
Sosok ibu selalu memberiku inspirasi dan motivasi untuk selalu menjadi sosok yang begitu tulus seperti ibuku.
Thanks for your love, Mam….
I’ll Always Love You Till Forever Come

Tiada Hari Tanpa Mati Lampu

Di usiaku yang bisa dibilang masih belia (Cie...cie... 20th gt), aku sudah harus merantau ke Borneo Island, tepatnya di kab. Tanah Bumbu, Kal-Sel.
What amazing! di kabupaten yang baru 5 th berdiri ini selalu bikin penghuninya jengkel. Gimana nggak jengkel, masa tiap hari pasti mati lampu. Nggak tanggung-tanggung dalamsatu hari bisa 2-4 kali mati lampu. Bahkan pernah juga mati lampu selama 24 jam lebih. Tak heran banyak penduduknya memilih jenset sebagai alternatif saat mati lampu (Wah... bisa jadi saingan beratnya Medan dong, yang konon dijuluki Kota Seribu Jenset) Sebenarnya tambah boros sih, tapi ya... gimana lagi, daripada tiap malam hidup dalam kegelapan. Yang nggak kalah bikin snewen, kalau nggak mati lampu pasti tiap malam tegangan listrik turun. Jadinya nggak bisa nonton TV deh, boro-boro nonton TV, lampu dah nyala aja dah Alhamdulillah banget.
Dalam keadaan yang memprihatinkan ini, pihak yang bersangkutan malah saling menyalahkan. PLN menyalahkan warganya yang nggak bisa berhemat, warganya menyalahkan PLN yang nggak bisa ngasih pelayanan yang memuaskan. Siapa yanga salah kalau gitu? Kalau menurut Gigi sih, dua-duanya ikut bersalah.
Eits... kok jadi nyalahin orang gini ya...???!!???
Buat yang merasa tersinggung sama tulisan Gigi disini, mohon maaf dulu ya. Awalnya Gigi nulis ini cuma buat share ke pembaca yang mungkin belum pernah merasakan hidup di Tanah Bumbu (tepatnya di Batulicin), sebuah kota kecil tempat penambangan Batubara di wilayah Kal-Sel. Pembaca bisa bayangkan nggak, di jaman yang sudah maju ini, ternyata penerangan di Batulicin masih tertinggal jauh dibanding kota lalin. Jadi harus sabar-sabar ngrasain hidup seperti jaman dahulu kala, pakai teplok, dian, lilin, atau apalah namanya. Yang lebih ironis lagi, anak-anak usia sekolah jadi tidak punya banyak waktu untuk belajar di malam hari.
Semoga saja kondisi ini bisa mambaik. Karena kalau tidak dampaknya nggak hanya pada perekonomian tapi juga pendidikan.


Perkenalan Dulu deh

Perkenalkan, nama saya... (He...he...kok kayanya formil banget ya)

Teman-temanku biasa manggil aku dengan Gigi, jangan bingung dulu ya, Gigi itu diambil dari satu suku kata pada namaku, yaitu Giarti. Kata orang sih nama asliku nggak terlalu bagus, keliatan banget Jawanya. Tapi aku senang coz itu nama pembarian ortuku :-)
Perdana nulis di Blog jadi bingung nih, mo nulis apa ya....
Nulis sekenanya aja deh... He...He... :-)


Salam manis,

Geegee Cuakep