Sudah hampir satu tahun aku meninggalkan kampung halamanku dan belum sempat untuk mudik walau hanya sekedar nengok keluarga. Sepuluh bulan setelah kepergianku ke Kalimantan, tepatnya dua bulan yang lalu, ibuku menyusulku ke Kalimantan. Tapi mungkin bukan itu semata-mata alasan ibuku meninggalkan tanah kelahiran kami. Karena suatu masalahlah yang membuat ibuku sudah merasa tidak nyaman lagi di rumahnya, di kampungnya sendiri. Kami, anak-anakny maklum akan apa yang ibu alami, memang sungguh cobaan yang bertubi-tubi. Dan cobaan itu hampir membuat ibuku sebagai sosok paling tangguh di dunia, sampai akhirnya beliau memutuskan menyerah dan lari dari kenyataan. Dengan harapan akan bisa hidup tenang di Kalsel, ibuku bersikukuh tidak mau pulang ke Jawa.
Aku senang banget melihat kedatangan ibuku. Setiap hari aku bisa makan masakan ibuku yang paling lezat, mencium tangan ibuku ketika mau berangkat ke kantor, tidur di pangkuanny saat ku lelah dan kembali seperti anak kecil yang selalu dimanja ibunya.
Tapi aku juga sedih. Sedih bukan karena aku tidak mau merawat orang tuaku, atau karena aku tidak mau dibebani. Sungguh bukan itu yang membuatku sedih. Keadaan ibukulah yang sering membuatku sedih. Saat aku pura-pura tertidur, kulihat ibuku sedang menerawang atap rumah kontrakan yang aku diami, pandanganny kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan. Tak jarang kupergoki beliau sedang melamun saat nonto TV, lagi-lagi aku tidak tahu apa yang beliau lamunkan. Saat makan bersama, jarang sekali ibuku nampak menikmati makananya, makannya selalu sedikit (seolah beliau tak ingin membebani kami dengan nasi yang dia suap) Ingin rasanya kuangkat seluruh beban pikiran beliau, agar tak ada lagi gurat kesedihan di wajahnya.
Setiap aku pandangi wajah ibuku tercinta yang mulai keriput, selalu ku temukan setumpuk derita yang selalu disimpan rapi dari anak-anaknya. Aku tak tahu apapun dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya ingin melihat beliau bahagia, namun begitu sulit beliau melupakan masalah-masalahnya.
Selama ini aku mengenal ibuku sebagai sosok yang tegar. Tak pernah menangis walau menderita. Namun sikap inilah yang membuatku takut. Beliau tidak menangis, tidak mengeluh dan tidak bicara apapun, padahal hatinya luka, menderita. Aku takut pada ibuku yang terus dan terus saja memendam lukanya. Sekeras apapun batu karang, kalau dihantam ombak terus menerus lama kelamaan terkikis juga. Dan itulah yang aku takutkan akan dialami ibuku. Setegar-tegarnya ibuku memendam kesedihan, lambat laun hatinya tidak akan muat menanggungnya.
Ya Allah, jagalah ibuku...
Sayangi beliau seperti beliau menyayangiku
Bahagiakan beliau melebihi caranya membahagiakan anak-anakny...
Semoga ibuku tetap tegar dalam mengarungi pahitnya kehidupan...
Aku sayang ibu dan semoga Allah menjagamu, Bu...
Selasa, 24 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar